BELAJAR DARI KEGAGALAN

Harus diakui bahwa kebanyakan orang tidak senang bicara soal kegagalan. Alasannya: malu dan menghilangkan semangat. Kita lebih bersemangat untuk bercerita panjang lebar mengenai kisah sukses. Namun, pernahkan Anda merenungkan bagaimana masa lalu membentuk perilaku kepemimpinan Anda saat ini? Apa yang membuat Anda menjadi pemimpin yang lebih kuat? Apa yang telah memberi Anda perspektif untuk mengembangkan visi yang lebih besar? Salah satu jawabannya adalah kegagalan, karena dalam setiap kegagalan tertanam hikmah. Kegagalan mengajari seseorang cara mengelola kesulitan, hambatan, dan tantangan. Untuk bertumbuh, pemimpin harus melewati berbagai kesulitan.

Walaupun pahit, kegagalan memberi manfaat bagi Anda sebagai pemimpin. Berikut ini adalah empat di antaranya:

1. Mengetahui siapa yang dapat dipercaya dan diandalkan

Sebagai pemimpin, tentu Anda memiliki tangan kanan, orang-orang yang bisa diandalkan untuk mencapai tujuan organisasi. Ujian nyata dari orang-orang andalan ini adalah pelaksanaan misi, proyek, dan tugas. Ketika Anda gagal, kemungkinan besar penyebabnya adalah salah pilih orang atau tim dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut. 

Kegagalan mendorong Anda untuk melihat kembali kemampuan, karakter, dan loyalitas orang-orang Anda. Bisa jadi kegagalan menyadarkan bahwa Anda tidak memiliki orang-orang internal yang bisa diandalkan untuk menjalankan misi dan mewujudkan visi tertentu, kalau demikian kondisinya, mau tidak mau Anda harus mencari atau membentuk tim dari luar.

2. Memberi perspektif siapa yang mendukung kepemimpinan

Kegagalan akan membuka mata Anda untuk mengetahui siapa ‘kawan’ dan siapa ‘lawan’. Kawan datang mengulurkan tangan ketika Anda menghadapi masalah. Mereka akan memberi dukungan dan memberi bantuan. Sebaliknya, lawan akan membiarkan, bahkan mendorong, Anda untuk masuk ke jurang kehancuran.

Pemahaman ini membantu Anda untuk menyusun strategi kepemimpinan selanjutnya. Anda dapat mengembangkan cara untuk membangun jalinan yang lebih kuat dengan para pendukung. Apabila memungkinkan, Anda bisa mencoba merangkul ‘lawan’ untuk menjadi pendukung. Apabila tidak memungkinkan, Anda dapat menyusun strategi untuk menghadapinya.

Meskipun demikian, perlu dipahami bahwa seorang ‘kawan’ pada kasus tertentu bisa berbalik menjadi ‘lawan’ pada kasus yang lain. Dalam ilmu politik, ada pepatah yang mengatakan: tidak ada kawan atau lawan, yang ada adalah kepentingan. Sementara itu, dalam ilmu kepemimpinan, terdapat pepatah: bagi pemimpin tidak ada kawan, yang ada adalah pengikut dan lawan.

3. Membuka mata besarnya tanggung jawab sebagai pemimpin

Kegagalan akan menyadarkan Anda bahwa tanggung jawab sebagai pemimpin bukan hanya menyangkut nasib Anda sendiri, tetapi menentukan nasib semua orang dalam organisasi, bahkan mungkin masyarakat luas. Kesadaran ini mendorong Anda untuk memikirkan cara-cara untuk menyukseskan amanah yang diserahkan kepada Anda.

Orang yang menduduki posisi pemimpin, tetapi hanya memikirkan kepentingan sendiri atau orang-orang terdekatnya, bukanlah pemimpin yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, dalam ilmu psikologi, kepemimpinan menyatakan bahwa orang yang layak menjadi pemimpin adalah mereka yang telah selesai dengan dirinya sendiri.

Membuat berpikir mengenai tugas dan dampaknya bagi orang lain dan organisasi merupakan manfaat lanjutan dari nomor tiga di atas. Kesadaran mengenai besarnya tanggung jawab mendorong pemimpin untuk selalu memikirkan dampak dari keputusan, kebijakan, dan tindakannya bagi orang lain, organisasi, dan masyarakat luas. Kegagalan mengingatkan pemimpin bahwa kesalahan yang dibuatnya menyebabkan banyak orang dirugikan. Pemahaman ini akan mendorong Anda untuk lebih hati-hati, berpikir kreatif, bekerja keras, dan bijaksana.

4. Membuat pemimpin yang efektif dengan belajar

Kegagalan menyadarkan bahwa, sebagai pemimpin, Anda masih memiliki kelemahan. Anda akan terdorong untuk memperbaikinya dengan banyak belajar. Anda mungkin harus memperbaiki cara berkomunikasi, cara membuat keputusan, cara berpikir, dan lain sebagainya. Menemukan berbagai kelemahan dari kegagalan juga mengarahkan Anda untuk menjadi pemimpin yang rendah hati, sebuah kualitas pemimpin yang disukai banyak orang.

Seperti pada keberhasilan, pemimpin pasti akan mengalami kegagalan. Apabila Anda memiliki cara pandang positif, kegagalan merupakan peluang untuk menjadi pemimpin yang lebih baik.

“Pernahkan Anda merenungkan bagaimana masa lalu membentuk perilaku kepemimpinan Anda saat ini? Apa yang membuat Anda menjadi pemimpin yang lebih kuat? Apa yang telah memberi Anda perspektif untuk mengembangkan visi yang lebih besar? Salah satu jawabannya adalah kegagalan, karena dalam setiap kegagalan tertanam hikmah.”


Posted

in

by

Tags: